Jalan T. Rizal Nurdin Km. 4,5 Sihitang Kota Padangsidimpuan, Provinsi Sumatera Utara  |  0634-22080  |  lppm@uinsyahada.ac.id
×

Cari Sesuatu

Siapkan Luaran Penelitian Berkualitas, LPPM UIN Syahada Padangsidimpuan Hadirkan Pelatihan Software Analisis Data

Siapkan Luaran Penelitian Berkualitas, LPPM UIN Syahada Padangsidimpuan Hadirkan Pelatihan Software Analisis Data

Padangsidimpuan, Jumat (11/09/2026). Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan menyelenggarakan Pelatihan Penggunaan Software Analisis Data Penelitian Tahun 2026 yang diikuti oleh 50 dosen penerima bantuan penelitian tahun 2026, di Aula Biro UIN Syahada Padangsidimpuan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari pembinaan bagi penerima bantuan penelitian agar mampu memanfaatkan berbagai perangkat lunak analisis data secara tepat sesuai dengan pendekatan penelitian, baik kuantitatif maupun kualitatif. Pelatihan menghadirkan dua narasumber yang memiliki kompetensi di bidang metodologi dan analisis data, yaitu Dr. Prana Ugiana Gio, M.Si dari Universitas Sumatera Utara dan Dr. Anil Hakim Syofra, S.Pd., M.Si dari Universitas Asahan. Rangkaian acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan doa yang dipimpin oleh Azwar Hamid, M.A.

Ketua Panitia yang juga menjabat sebagai Kepala Pusat Penelitian LPPM UIN Syahada Padangsidimpuan, Dr. Muhammad Wandisyah R. Hutagalung, M.E., menyampaikan ucapan selamat datang kepada kedua narasumber sekaligus mengapresiasi antusiasme para peserta yang hadir.

“Kami mengucapkan selamat datang kepada Bapak Dr. Prana Ugiana Gio, M.Si. dan Bapak Dr. Anil Hakim Syofra, S.Pd., M.Si. di UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan. Kehadiran Bapak berdua menjadi kesempatan berharga bagi para dosen untuk mempelajari pemanfaatan software analisis data yang relevan dengan perkembangan penelitian saat ini.”

Ia menjelaskan bahwa seluruh peserta merupakan dosen penerima bantuan penelitian tahun 2026 yang diharapkan mampu mengoptimalkan proses pengolahan data hingga penyusunan luaran penelitian.

“Sebanyak 50 dosen penerima bantuan penelitian tahun 2026 mengikuti pelatihan ini dengan semangat yang tinggi. Kami mengucapkan terima kasih atas komitmen seluruh peserta untuk terus belajar dan mengembangkan kompetensi penelitian. Semoga ilmu yang diperoleh hari ini dapat mendukung lahirnya hasil penelitian yang bermanfaat bagi masyarakat.”

Acara secara resmi dibuka oleh Rektor UIN Syahada Padangsidimpuan yang dalam kesempatan tersebut diwakili oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan, Prof. Dr. H. Arbanur Rasyid, M.A. Dalam sambutannya, Prof. Arbanur menyampaikan apresiasi kepada kedua narasumber yang telah meluangkan waktu untuk berbagi pengalaman dan keilmuan kepada dosen-dosen UIN Syahada Padangsidimpuan.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada kedua narasumber yang telah hadir di UIN Syahada Padangsidimpuan. Kehadiran Bapak berdua menjadi bagian penting dalam membekali dosen dengan pengetahuan dan pengalaman praktis mengenai analisis data penelitian.”

Ia menjelaskan bahwa setiap penelitian memiliki karakteristik data yang berbeda sehingga membutuhkan teknik analisis yang sesuai.

“Baik penelitian kualitatif maupun kuantitatif memiliki karakteristik data yang berbeda. Oleh karena itu, peneliti harus mampu memilih pendekatan analisis yang tepat. Penguasaan berbagai software analisis data menjadi kebutuhan yang tidak dapat dipisahkan dari pelaksanaan penelitian saat ini.”

Prof. Arbanur juga mengapresiasi inovasi yang dihadirkan oleh salah seorang narasumber melalui pengembangan perangkat lunak analisis data.

“Menjadi kebanggaan bagi kita bahwa salah satu narasumber telah mengembangkan software analisis data hasil karya sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa inovasi di bidang teknologi penelitian terus berkembang dan dapat dimanfaatkan oleh para akademisi.”

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa setiap penerima bantuan penelitian memiliki tanggung jawab menghasilkan luaran penelitian yang berkualitas, baik berupa artikel ilmiah maupun bentuk luaran lainnya.

“Luaran penelitian merupakan kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap penerima bantuan penelitian. Pemanfaatan software analisis data diharapkan dapat membantu dosen menghasilkan artikel ilmiah yang memenuhi standar penerbitan pada jurnal nasional terakreditasi maupun jurnal bereputasi internasional.”

Menurutnya, penguasaan teknologi penelitian merupakan salah satu wujud implementasi visi UIN Syahada Padangsidimpuan dalam membangun budaya akademik yang unggul, cerdas, moderat, serta mampu berkontribusi pada perkembangan ilmu pengetahuan di tingkat nasional maupun internasional.

LPPM UIN Syahada Padangsidimpuan berharap para dosen penerima bantuan penelitian tahun 2026 semakin siap memanfaatkan teknologi analisis data dalam setiap tahapan penelitian sehingga mampu menghasilkan luaran ilmiah yang berkualitas, memberikan solusi atas berbagai persoalan masyarakat, serta mendukung terwujudnya visi UIN Syahada Padangsidimpuan sebagai universitas Islam bertaraf internasional yang berlandaskan nilai al-ilahiyah, al-insaniyah, dan al-kauniyah.

Kontributor : A Contibutor
KNPPM 2026, Ka. LPPM Dr. Putra Halomoan Bahas Tata Kelola AI yang Adil, Adaptif, dan Human-Centered Berbasis Maqāṣid al-Sharīʿah

KNPPM 2026, Ka. LPPM Dr. Putra Halomoan Bahas Tata Kelola AI yang Adil, Adaptif, dan Human-Centered Berbasis Maqāṣid al-Sharīʿah

Denpasar, Bali, 10–11 September 2026. Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan, Dr. Putra Halomoan Hsb, M.H., mengikuti Konferensi Nasional Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat (KNPPM) 2026 yang diselenggarakan di Universitas Warmadewa, Denpasar, Bali.

Pada konferensi nasional tahunan yang memasuki tahun keempat tersebut, Dr. Putra Halomoan turut berkontribusi dalam forum ilmiah melalui pemaparan materi berjudul “Integrasi Hukum Islam dan Hukum Positif dalam Regulasi Teknologi Masa Depan: Model Normatif-Operasional Berbasis Maqāṣid al-Sharīʿah untuk Tata Kelola Artificial Intelligence (AI) yang Adil, Adaptif, dan Human-Centered.”

Materi tersebut mengangkat isu penting mengenai perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) yang semakin memengaruhi berbagai aspek kehidupan, sekaligus menghadirkan tantangan baru dalam aspek hukum, etika, perlindungan manusia, dan tata kelola teknologi.

Dr. Putra Halomoan menjelaskan bahwa perkembangan AI membutuhkan kerangka regulasi yang tidak hanya mampu mengikuti kemajuan teknologi, tetapi juga menjamin perlindungan terhadap manusia dan kepentingan publik. Karena itu, integrasi antara hukum positif Indonesia dan prinsip-prinsip hukum Islam berbasis Maqāṣid al-Sharīʿah menjadi salah satu pendekatan yang dapat dikembangkan.

“Regulasi teknologi masa depan tidak cukup hanya bersifat responsif terhadap perkembangan teknologi. Regulasi juga harus mampu memastikan bahwa teknologi tetap berada dalam koridor keadilan, kemaslahatan, perlindungan manusia, dan penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.”

Menurutnya, Maqāṣid al-Sharīʿah dapat memberikan landasan nilai dalam membangun tata kelola AI yang berorientasi pada kemaslahatan. Pendekatan tersebut dapat dipertemukan dengan hukum positif Indonesia untuk menghasilkan model regulasi yang tidak hanya normatif, tetapi juga dapat dioperasionalkan dalam menghadapi dinamika teknologi.

“Integrasi hukum Islam dan hukum positif bukan berarti mempertentangkan dua sistem hukum, tetapi mencari titik temu nilai dan tujuan hukum untuk menghadirkan tata kelola teknologi yang adil, adaptif, dan berorientasi pada manusia.”

Ia menekankan bahwa aspek manusia harus tetap menjadi pusat dalam pengembangan dan pemanfaatan AI. Teknologi seharusnya menjadi instrumen yang mendukung kehidupan manusia, bukan justru mengurangi perlindungan terhadap hak, martabat, dan kepentingan masyarakat.

“Artificial Intelligence harus dikembangkan sebagai teknologi yang human-centered. Kemajuan teknologi harus berjalan bersama dengan perlindungan terhadap hak manusia, keadilan sosial, keamanan, serta kemaslahatan masyarakat.”

Dalam pemaparannya, Dr. Putra Halomoan juga menyoroti pentingnya dinamika regulasi teknologi dalam hukum positif Indonesia. Menurutnya, perkembangan teknologi yang sangat cepat membutuhkan regulasi yang adaptif agar mampu merespons berbagai persoalan baru yang muncul dari penggunaan AI.

Ia menjelaskan bahwa tujuan kajian yang disampaikan adalah menganalisis dinamika regulasi teknologi dalam hukum positif Indonesia serta merumuskan model integrasi hukum Islam dan hukum positif yang berbasis Maqāṣid al-Sharīʿah.

“Kita membutuhkan regulasi yang mampu bergerak mengikuti perkembangan teknologi, tetapi tetap memiliki fondasi nilai yang kuat. Di sinilah Maqāṣid al-Sharīʿah dapat memberikan orientasi agar inovasi teknologi tetap diarahkan pada kemaslahatan dan perlindungan manusia.”

KNPPM 2026 mengusung tema “Strategi Pengembangan Inklusif untuk Pengelolaan Desa Mandiri.” Konferensi ini merupakan forum diseminasi nasional kegiatan pengabdian dan pemberdayaan masyarakat yang mempertemukan akademisi dan berbagai perguruan tinggi serta lembaga di Indonesia.

Pada penyelenggaraan tahun keempat ini, Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat (DPKM) Universitas Gadjah Mada (UGM) berkolaborasi dengan Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) Universitas Warmadewa, ITB STIKOM Bali, dan Politeknik Transportasi Darat Bali (Poltrada Bali) dalam penyelenggaraan KNPPM 2026.

Tema konferensi dilatarbelakangi oleh kebutuhan terhadap intervensi ekonomi inklusif berbasis komunitas untuk mengurangi kesenjangan dan memperkuat keadilan sosial dalam pembangunan masyarakat dan desa. Pengembangan BUMDes sebagai motor ekonomi lokal, agribisnis dan ketahanan pangan, digitalisasi pasar lokal, energi terbarukan, desa wisata, serta ekonomi kreatif menjadi bagian dari strategi menuju desa mandiri.

Sejumlah narasumber utama turut hadir dalam konferensi tersebut, di antaranya Prof. apt. I Ketut Adnyana, M.Si., Ph.D., Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi; Dr. Djarot Heru Santosa, M.Hum., Sekretaris Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat UGM; serta Dr. Yani Rahmawati, S.T., M.T., Editor in Chief Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat (JPKM) UGM.

Keikutsertaan Dr. Putra Halomoan dalam KNPPM 2026 menjadi bagian dari upaya memperkuat kontribusi akademisi UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan dalam forum ilmiah nasional. Selain menjadi ruang diseminasi gagasan, konferensi tersebut juga menjadi momentum untuk memperluas jejaring akademik serta mendorong peningkatan kualitas publikasi dan dampak kegiatan penelitian, pengabdian, dan pemberdayaan masyarakat.

Kontributor : A Contibutor
Tanamkan Nilai Kesetaraan Gender untuk Mencetak Generasi Profesional Masa Depan

Tanamkan Nilai Kesetaraan Gender untuk Mencetak Generasi Profesional Masa Depan

Padangsidimpuan, Rabu, 9 September 2026. Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan menyelenggarakan Seminar Kesetaraan Gender dalam Dunia Akademik dan Profesi bagi Mahasiswa di Aula Gedung Terpadu, Rabu (9/9/2026). Mengusung tema “Dari Kampus Menuju Dunia Kerja: Strategi Mewujudkan Kesetaraan Gender bagi Generasi Profesional Masa Depan,” kegiatan ini diikuti sekitar 200 mahasiswa dari berbagai fakultas.

Ketua panitia, Fitri Rayani Siregar, M.Hum., dalam laporannya menyampaikan bahwa seminar tersebut merupakan salah satu program Pusat Studi Gender dan Anak LPPM sebagai upaya memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai pentingnya kesetaraan gender dalam kehidupan akademik maupun dunia profesi.

Menurutnya, perkembangan dunia kerja saat ini menuntut lulusan perguruan tinggi tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki karakter profesional yang menghargai keadilan, keberagaman, dan kesempatan yang setara bagi setiap individu.

“Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang nilai-nilai kesetaraan gender, membangun kesadaran akan pentingnya lingkungan kerja yang inklusif, serta mempersiapkan generasi muda agar mampu menghadapi tantangan dunia kerja secara profesional. Seminar ini diikuti sekitar 200 mahasiswa yang berasal dari berbagai fakultas di lingkungan UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan,” jelas Fitri.

Sementara itu, sambutan Ketua LPPM yang disampaikan oleh Kepala Pusat Pengkajian Islam dan Moderasi Beragama, Ali Amran Hsb., S.Ag., M.Si., menegaskan bahwa kesetaraan gender merupakan bagian dari nilai-nilai Islam yang menjunjung tinggi keadilan dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Ia mengatakan bahwa LPPM terus mendorong lahirnya berbagai kajian ilmiah dan program pengabdian kepada masyarakat yang mampu memberikan solusi terhadap berbagai persoalan sosial, termasuk penguatan budaya akademik yang inklusif dan bebas dari diskriminasi.

“Seminar ini diharapkan tidak hanya menjadi ruang berbagi pengetahuan, tetapi juga mampu melahirkan kesadaran kritis di kalangan mahasiswa untuk menjadi agen perubahan yang membangun budaya kerja yang sehat, profesional, dan berkeadilan. Nilai-nilai kesetaraan perlu diimplementasikan dalam pendidikan, penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian dari kontribusi perguruan tinggi bagi pembangunan bangsa,” ujarnya.

Acara secara resmi dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan, Prof. Dr. H. Arbanur Rasyid, M.A., yang hadir mewakili Rektor UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan.

Dalam sambutannya, Prof. Arbanur menyampaikan bahwa tema seminar sangat relevan dengan tantangan yang dihadapi lulusan perguruan tinggi pada era global. Dunia kerja membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi akademik, karakter, integritas, kemampuan berkolaborasi, serta menghargai keberagaman.

Ia menegaskan bahwa penguatan nilai kesetaraan gender sejalan dengan visi UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan sebagai Universitas Islam bertaraf internasional yang memiliki paradigma keilmuan teoantropoekosentris. Paradigma tersebut mengintegrasikan nilai al-ilahiyah, al-insaniyah, dan al-kauniyah dalam pelaksanaan tridarma perguruan tinggi.

“Kesetaraan gender merupakan bagian dari implementasi nilai al-insaniyah yang menempatkan manusia pada posisi yang mulia dengan memberikan kesempatan yang sama untuk berkembang sesuai potensi yang dimiliki. Melalui paradigma teoantropoekosentris, UIN Syahada terus berupaya melahirkan lulusan yang saleh, moderat, cerdas, dan unggul, sekaligus mampu menghadirkan budaya kerja yang profesional, inklusif, dan berkeadilan,” ungkapnya.

Pada kesempatan tersebut, Prof. Arbanur juga mengajak seluruh mahasiswa untuk terus meningkatkan kapasitas diri, memperkuat kompetensi, serta membangun karakter kepemimpinan yang adaptif terhadap perubahan tanpa mengabaikan nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan.

Seminar menghadirkan Dr. Rosramadhana, S.Pd., M.Si. sebagai narasumber. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa kesetaraan yang diperoleh selama menempuh pendidikan belum tentu sepenuhnya dirasakan ketika memasuki dunia kerja. Oleh karena itu, mahasiswa perlu membekali diri dengan kompetensi profesional, kemampuan komunikasi, kepemimpinan, literasi digital, kemampuan berjejaring, dan negosiasi agar mampu menghadapi berbagai tantangan serta mengurangi bias dan stereotip gender di lingkungan kerja.

Outcame kegiatan ini LPPM berharap mahasiswa tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi mampu tumbuh sebagai generasi profesional yang memiliki integritas, menjunjung tinggi nilai keadilan, serta berkontribusi menciptakan lingkungan kerja yang sehat, inklusif, dan berdaya saing di tingkat nasional maupun internasional.

Kontributor : A Contibutor
Dr. Aulia Rahmat: Artikel Berkualitas Harus Memiliki Research Gap, Novelty dan Mematuhi Etika Publikasi

Dr. Aulia Rahmat: Artikel Berkualitas Harus Memiliki Research Gap, Novelty dan Mematuhi Etika Publikasi

Padangsidimpuan, 28 Agustus 2026. Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat menggelar kegiatan Rumah Jurnal: Klinik Manajemen Peningkatan Pengelolaan Site Jurnal Nasional Terakreditasi, Kamis–Jumat, 27–28 Agustus 2026. Kegiatan ini diikuti oleh para pengelola jurnal di lingkungan UIN Syahada Padangsidimpuan.

Dalam kegiatan tersebut, Dr. Aulia Rahmat, S.H.I., M.A.Hk., C.L.A. Selaku Kepala Pusat Penelitian UIN Imam Bonjol Padang menyampaikan materi yang berfokus pada penguatan mutu substansi artikel ilmiah, khususnya mengenai research gap, novelty, serta etika dalam publikasi ilmiah. Dr. Aulia menjelaskan bahwa artikel ilmiah yang berkualitas tidak hanya ditentukan oleh struktur penulisan yang baik, tetapi juga harus memiliki dasar akademik yang kuat. Salah satu hal penting yang harus diperhatikan penulis adalah kemampuan menemukan dan menjelaskan research gap, yaitu kesenjangan atau persoalan yang belum terjawab secara memadai dalam penelitian sebelumnya.

“Artikel ilmiah yang baik harus mampu menjawab pertanyaan mendasar, yaitu apa yang belum terjawab dari penelitian sebelumnya dan mengapa penelitian ini penting dilakukan. Di sinilah research gap menjadi penting, karena dari kesenjangan tersebut peneliti dapat menunjukkan posisi penelitiannya dan memberikan alasan yang kuat mengapa penelitian tersebut layak untuk dipublikasikan,” ujar Dr. Aulia.

Menurutnya, research gap harus menjadi dasar dalam membangun kebaruan atau novelty penelitian. Penulis perlu menunjukkan dengan jelas kontribusi baru yang diberikan melalui penelitian, baik dalam bentuk temuan, pendekatan, perspektif, metode, maupun pengembangan teori.

“Novelty bukan sekadar mengganti objek penelitian atau melakukan penelitian di lokasi yang berbeda. Kebaruan harus terlihat dari kontribusi yang diberikan penelitian terhadap pengembangan ilmu pengetahuan. Karena itu, penulis harus mampu menjelaskan apa yang benar-benar baru dari penelitiannya dan apa kontribusi yang diberikan dibandingkan dengan penelitian-penelitian sebelumnya,” jelasnya.

Dr. Aulia juga menekankan pentingnya kemampuan penulis dalam melakukan analisis dan sintesis terhadap berbagai hasil penelitian terdahulu. Menurutnya, kajian pustaka tidak cukup hanya berupa kumpulan kutipan, tetapi harus mampu memperlihatkan hubungan, perbedaan, dan posisi penelitian yang dilakukan. Selain memperkuat substansi artikel, ia mengingatkan para pengelola jurnal dan penulis untuk menjadikan etika publikasi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kualitas artikel. Integritas akademik harus dijaga sejak proses penelitian, penulisan, pengiriman naskah, hingga proses publikasi.

“Artikel yang berkualitas bukan hanya artikel yang memiliki bahasa yang baik atau hasil penelitian yang menarik. Kualitas juga ditentukan oleh integritas penulis dalam menjalankan proses penelitian dan publikasi. Plagiarisme, manipulasi data, duplikasi publikasi, serta berbagai bentuk pelanggaran etika harus dihindari karena dapat merusak kredibilitas penulis maupun jurnal,” tegas Dr. Aulia.

Dalam sesi tersebut, Dr. Aulia juga memberikan pemahaman kepada peserta mengenai pentingnya memastikan kesesuaian antara permasalahan penelitian, research gap, tujuan penelitian, metode, hasil, pembahasan, hingga kesimpulan. Keterkaitan antarbagian tersebut menjadi salah satu dasar agar artikel memiliki argumentasi ilmiah yang kuat.

Pada akhir sesi, Dr. Aulia memberikan simulasi asesmen mandiri kepada peserta. Simulasi tersebut dilakukan untuk membantu pengelola jurnal melihat dan mengevaluasi kualitas substansi artikel secara lebih objektif, sekaligus mengidentifikasi bagian-bagian yang masih perlu diperbaiki sebelum artikel diterbitkan.

Paparan Dr. Aulia dipandu oleh Dr. Rodame Monitorir Napitupulu selaku Kepala Pusat Penerbitan dan Publikasi Ilmiah UIN Syahada Padangsidimpuan bersama Ali Amran, M.Si. selaku Kepala Pusat Pengkajian Islam dan Moderasi Beragama UIN Syahada Padangsidimpuan. Keduanya memandu jalannya diskusi dan membantu mengarahkan peserta dalam memahami materi serta menghubungkannya dengan kebutuhan pengelolaan jurnal di lingkungan UIN Syahada Padangsidimpuan.

Kegiatan Rumah Jurnal ini menjadi bagian dari upaya UIN Syahada Padangsidimpuan untuk meningkatkan kualitas pengelolaan dan substansi jurnal ilmiah. Melalui penguatan kualitas artikel, pemahaman terhadap research gap dan novelty, serta penerapan etika publikasi, pengelola jurnal diharapkan mampu menghasilkan publikasi ilmiah yang semakin berkualitas, kredibel, dan berkontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan.

Kontributor : A Contibutor
Dari Sekadar Compliance menuju Quality Assurance, Dr. Ismail Husein Tekankan Pentingnya Mutu Artikel, Tata Kelola dan Integritas

Dari Sekadar Compliance menuju Quality Assurance, Dr. Ismail Husein Tekankan Pentingnya Mutu Artikel, Tata Kelola dan Integritas

Padangsidimpuan, 27 Agustus 2026. UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat menggelar kegiatan Rumah Jurnal: Klinik Manajemen Peningkatan Pengelolaan Site Jurnal Nasional Terakreditasi, Kamis–Jumat, 27–28 Agustus 2026. Kegiatan tersebut diikuti 39 peserta yang merupakan pengelola jurnal di lingkungan UIN Syahada Padangsidimpuan.

Salah satu narasumber, Dr. Ismail Husein, M.Si., dari UIN Sumatera Utara Medan, menyampaikan materi mengenai regulasi dan arah baru akreditasi jurnal ilmiah tahun 2026. Ia menjelaskan Permendiktisaintek Nomor 9 Tahun 2026 dan Kepdirjen Sains dan Teknologi Nomor 374/DST/D.D1/HM.01.01/2026 sebagai regulasi dan petunjuk teknis terbaru dalam proses akreditasi jurnal.

Paparan materi tersebut dipandu oleh Dr. Rodame Monitorir Napitupulu selaku Kepala Pusat Penerbitan dan Publikasi Ilmiah LPPM UIN Syahada Padangsidimpuan. Dalam memandu kegiatan, Dr. Rodame mengarahkan diskusi agar peserta dapat memahami perubahan standar akreditasi sekaligus mengidentifikasi berbagai aspek pengelolaan jurnal yang perlu diperbaiki.

Dr. Ismail menekankan bahwa akreditasi jurnal tidak lagi sekadar berorientasi pada pemenuhan persyaratan administratif, tetapi harus diarahkan pada peningkatan mutu jurnal secara berkelanjutan.

“Akreditasi tahun 2026 ini bergerak dari sekadar compliance menuju quality assurance. Artinya, pengelola jurnal tidak cukup hanya memastikan seluruh persyaratan terpenuhi secara administratif, tetapi harus mampu menunjukkan adanya proses dan budaya peningkatan mutu yang berjalan secara konsisten dalam pengelolaan jurnal,” ujar Dr. Ismail dalam paparannya.

Ia menjelaskan bahwa penilaian akreditasi jurnal mencakup dua aspek utama, yaitu tata kelola dengan bobot 46 poin dan mutu artikel dengan bobot 54 poin. Karena itu, pengelola jurnal perlu memperhatikan kualitas editor dan reviewer, proses peer review, kelengkapan laman jurnal, keberkalaan, penggunaan AI, serta visibilitas dan dampak ilmiah jurnal.

Menurut Dr. Ismail, proses peer review juga harus benar-benar memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas artikel. Keberadaan reviewer tidak cukup hanya ditampilkan dalam laman jurnal, tetapi proses penelaahan harus dapat dibuktikan dan menghasilkan perbaikan yang nyata pada artikel.

“Yang dinilai bukan sekadar berapa banyak komentar yang diberikan oleh reviewer, tetapi bagaimana proses review tersebut memberikan dampak terhadap mutu artikel. Review harus mampu membantu penulis memperbaiki substansi, memperkuat analisis, memperjelas argumentasi, dan pada akhirnya menghasilkan artikel yang lebih berkualitas,” jelasnya.

Selain tata kelola, mutu artikel menjadi bagian penting dalam akreditasi. Pengelola jurnal perlu memperhatikan kebaruan penelitian, kualitas analisis dan sintesis, kesimpulan, penggunaan sumber acuan primer dan mutakhir, serta kesesuaian artikel dengan fokus dan ruang lingkup jurnal.

Dr. Ismail juga mengingatkan pentingnya integritas akademik dan etika publikasi. Dalam regulasi baru, penggunaan kecerdasan artifisial (AI) juga menjadi perhatian. AI tidak ditempatkan sebagai penulis, sedangkan keputusan editorial tetap menjadi tanggung jawab manusia.

“Teknologi AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu dalam proses pengelolaan dan penulisan, tetapi tanggung jawab akademik dan keputusan editorial tetap berada pada manusia. Karena itu, pengelola jurnal harus memiliki kebijakan yang jelas mengenai penggunaan AI serta memastikan bahwa integritas, transparansi, dan etika publikasi tetap menjadi prinsip utama,” tegas Dr. Ismail.

Ia juga mengingatkan pengelola jurnal agar tidak hanya berfokus pada tampilan website atau OJS. Menurutnya, kualitas jurnal harus dibangun melalui rangkaian proses yang saling berkaitan, mulai dari kualitas reviewer, proses peer review, mutu artikel, metadata, visibilitas, hingga sitasi dan dampak ilmiah.

“Berhenti mengejar tampilan OJS. Yang lebih penting adalah membangun rantai mutu secara utuh, mulai dari reviewer yang berkualitas, proses review yang substantif, artikel yang bermutu, metadata yang baik, visibilitas yang semakin luas, hingga menghasilkan sitasi dan dampak ilmiah. Kalau rantai mutu ini dibangun dengan baik, maka kualitas jurnal akan tumbuh secara berkelanjutan,” ungkapnya.

Kontributor : A Contibutor